LET'S DO SOME

READING

RISETalk #39: Cegah Stunting Sejak Dini dari Persiapan Calon Ibu

Penulis: Shila Dwi Ramadhani; Editor: Shofa Marwati

Halo, Sobat Remaja!

Dalam RISETalk kali ini, kita akan membahas tentang stunting dan bagaimana cara mencegahnya. RISE Foundation berkolaborasi dengan GenRe Class dan ditemani dengan narasumber yang luar biasa yaitu Kak Aliqul Safik yang merupakan anggota Satgas Percepatan Penurunan Stunting di Jawa Timur. Tetapi, apa itu stunting?

Menurut Kak Aliqul Safik, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak akibat kurang gizi kronis. Salah satu tandanya adalah keterlambatan pertumbuhan yang ditandai dengan tinggi badan di bawah standar. Stunting berkaitan erat dengan gizi ibu pada masa kehamilan. Permasalahan gizi ibu hamil di Indonesia memang masih cukup tinggi, misalnya anemia dan kurang energi kronik. Kurangnya gizi pada ibu hamil dapat mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Sementara itu, kekurangan gizi pada balita akan mengakibatkan terjadinya stunting pada 1000 hari pertama kelahiran. 

Ada dua penyebab terjadinya stunting, yaitu penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung yakni infeksi kronis yang berulang contohnya dari asupan gizi dan terinfeksi stunting dari ibu. Sedangkan penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan, lingkungan sosial, dan lingkungan kesehatan.

Stunting perlu mendapatkan perhatian lebih karena dapat memengaruhi pertumbuhan otak sehingga mengganggu kognitif anak dan berdampak hingga usia remaja. Stunting juga dapat menyebabkan tidak normalnya organ-organ tubuh sehingga berujung pada gangguan pertumbuhan dan risiko penyakit lainnya. Terakhir, stunting mengakibatkan proporsi tinggi dan berat badan yang tidak ideal sehingga daya tahan tubuh berkurang.

Perlu digarisbawahi pula, stunting akan menciptakan sebuah lingkaran setan. Mengapa? Anak yang mengidap stunting akan melahirkan anak dengan stunting lagi. Namun, masalah ini tentunya dapat diselesaikan jika kita tahu bagaimana cara mengatasinya. 

Saat ini, pemerintah telah membentuk tim pendampingan keluarga yang terdiri dari bidan, BKKBN, dan penyuluh KB. Tujuannya untuk mengawasi situasi anak-anak penderita stunting. Tim pendampingan itu mendapati bahwa penyakit yang sering diderita oleh anak stunting tidak hanya terkait dengan kurangnya gizi tetapi juga Down Syndrome Hiperbilirubinemia. Selain itu, terkait dengan stunting yang diturunkan dari ibu kepada anak, hal tersebut akan menyebabkan hormon anak menjadi bermasalah. 

Banyak upaya pencegahan yang bisa dilakukan ibu hamil untuk mencegah terjadinya stunting. Pertama, petugas kesehatan wajib memberikan pendampingan pemeriksaan kehamilan (antenatal care atau ANC) sesuai usia kandungan serta memberikan tablet tambah darah dan multivitamin lain. Kedua, ibu hamil harus rutin melakukan ANC dan mengurangi konsumsi makanan berisiko selama masa kehamilan. Aspek kesehatan lingkungan juga perlu diperhatikan seperti menjaga kandungan mineral pada air bersih serta memastikan air minum bebas toksik dan sarana sanitasi baik

Adapun bagi anak yang terlanjur menderita stunting, beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain: 

  1. Bersinergi bersama tim pendampingan keluarga dan pihak desa mulai dari proses rujukan, screening, hingga perawatan ke fasilitas kesehatan terdekat.
  2. Intervensi sesuai kondisi anak (pemberian suplemen gizi anak seperti glukosa dan kandungan air)
  3. Memberikan pola asuh yang tepat sesuai perkembangan usia
  4. Rehabilitasi gizi yang melibatkan berbagai pihak  

Sobat Remaja juga dapat mencegah stunting dengan cara merencanakan kehidupan, seperti memilih calon pengantin ideal, mengonsumsi makanan dengan nutrisi yang bagus, melakukan gaya hidup bebas rokok, serta aktif mengikuti program pemerintah dalam mengatasi stunting.

Highlight

high level meeting
Article

High Level Meeting Urban Futures in Labuan Bajo: Turning Collaboration into Commitment for West Manggarai’s Food Future

The High Level Meeting (HLM) of Urban Futures Implementation Partners, held on April 30, 2026 at Hotel Sylvia in Labuan Bajo, was one of those moments. It brought together RISE Foundation as the lead of Konsorsium Koalisi Pangan dan Jaringan Orang Muda (Kopaja), Prestasi Junior Indonesia (PJI), and representatives from West Manggarai’s Regional Government Agencies to strengthen collaboration and identify opportunities to integrate Urban Futures approaches and learnings into local government programs.

Read More »